Pengaruh Keimanan Terhadap Kepasrahan

Bagaimanakah derajat suatu keimanan memberikan pengaruh kepada kepasrahan dari seseorang ? Untuk menjawab pertanyaan ini, diperlukan pemahaman yang cukup tentang kepasrahan, agar dapat disadari keterkaitan kepasrahan dengan keimanan, sehingga pemahaman tentang ini diharapkan memampukan kita untuk lebih pasrah kepada Tuhan yang dapat memberikan manfaat bagi kita secara lebih luas dan berkualitas (kemampuan adaptasi yang lebih baik).

Tidak selalu, tetapi ada beberapa pihak menganggap kepasrahan sebagai peniadaan daya upaya tertentu. Namun bagi saya, kepasrahan adalah justru pengerahan daya upaya ! Sekecil atau sebesar bagaimanapun, selalu ada daya upaya di dalam sikap kepasrahan. Kecuali jika kita dalam keadaan tidak sadar sama sekali secara mental, maka tidak ada tuntutan untuk berlaku pasrah. Sejauh kita masih sadar dan memiliki kekuatan untuk mewujudkan harapan sekecil apapun, maka itu selalu menunjukkan daya upaya yang merupakan bagian dari sikap kepasrahan. Bahkan ketika kita meniadakan daya upaya, dibutuhkan daya upaya untuk tidak berupaya. Mengapa ? Karena untuk meniadakan upayapun juga membutuhkan daya upaya yang mampu merubah keadaan kita dari aktif menjadi pasif dan mempertahankan keadaan pasif agar tidak menjadi aktif (kecuali jika ada pemaksaan dari lainnya selain dari kita, seperti sakit mendadak atau kecelakaan dan lainnya yang sejenis).

Semua kebingungan kita di dalam menghadapi kehidupan, yang cenderung mengaburkan makna kepasrahan sehingga menjadi jauh dari makna yang sebenarnya, adalah sebagai sebab dari kurangnya pemahaman perilaku kita selama ini. Bahwa sebenarnya kita dapat hidup sampai sejauh ini adalah dikarenakan kemampuan kita di dalam berpasrah yang terjadi (mengalir) secara sedemikian mudah, sehingga kita boleh jadi tidak mengenali detail elemen dari kepasrahan.
Sebagai langkah awal untuk mengenali detail elemen dari kepasrahan, kita perlu memahami secara bertahap yaitu Pernahkah kita bergantung kepada sesuatu ? Ya dan selalu demikian. Bahkan kita selalu bergantung (bersandar) kepada sesuatu pijakan. Kita selalu berpindah dari suatu pijakan ke pijakan yang lain. Kita selalu berpindah dari kebergantungan terhadap sesuatu kepada kebergantungan terhadap sesuatu lainnya. Banyak pula (termasuk saya) yang sering tidak menyadari kebergantungan bukan karena tidak menyadari secara mental (seperti pada bayi yang baru dilahirkan), tetapi tidak menyadari kebergantungan pada level pemahaman (tetapi pada level perbuatan menunjukkan adanya kebergantungan). Kebenaran tentang kebergantungan ini menegaskan pula tentang kebebasan bagi diri kita.
Bahwa besarnya kebebasan kita selalu ditentukan oleh besarnya kualitas dari yang menjadi tempat bersandar bagi kita. Artinya bahwa jika kita bersandar kepada kekuasaan seseorang, meletakkan keyakinan kepada seseorang, mengandalkan bantuan dari seseorang atau suatu kelompok, maka besarnya kebebasan kita juga sebesar sampai seberapa jauh kita dapat memperoleh dukungan dari kekuasaan seseorang atau sesuatu dimana kita bersandar kepadanya. Semakin berkuasa atau teguh sesuatu yang kita jadikan tempat bergantung, dan semakin mampu kita memperoleh dukungannya, makin semakin besar pula kebebasan (bagi perwujudan kebaikan yang lebih luas) yang kita dapatkan.
Adanya keanekaragaman kebergantungan menegaskan bahwa kita selalu menghadapi pilihan sebagai perwujudan dari kebebasan. Dan adanya pilihan tersebut mengharuskan adanya keyakinan kita di dalam menentukan pilihan terbaik yang membawa kepada suatu keberpihakankepada sandaran (kebergantungan) tertentu yang dianggap membawa manfaat bagi kita. Kebergantungan kita terhadap sesuatu menegaskan adanya keberpihakan kita terhadap sesuatu tersebut.
Keyakinan akan keahlian tertentu dari seseorang atau keyakinan tertentu terhadap kestabilan suatu keadaan atau keyakinan terhadap kebenaran yang berasal dari pemahaman yang masuk akal, dan yang semuanya itu juga diyakini sebagai membawa manfaat bagi diri sendiri dan juga diyakini diperlukan bagi saat tertentu, maka boleh jadi keyakinan seperti ini membawa kita kepada keberpihakan terhadap seseorang dan atau suatu keadaan yang merupakan kebergantungan, demi diperolehnya penjagaan untuk mempertahankan dan atau perbaikan kehidupan diri sendiri sebagai upaya pengembangan.
Dari penjelasan selama ini dapat disimpulkan bahwa (kurang lebih) kebenaran yang merupakan pilar utama dari kepasrahan adalah:
1. Adanya Keyakinan: bahwa kita selalu menghadapi pilihan yang mengharuskan keberpihakan yang melibatkan keyakinan, dan yang mengakibatkan, …
2. Adanya Kebergantungan: bahwa keberpihakan yang dilandasi oleh keyakinan adalah merupakan kebergantungan kita terhadap sesuatu lainnya.
Kepasrahan dalam hubungannya dengan daya upaya adalah selalu menegaskan adanya daya upaya. Dan lebih lanjut pemahaman tentang kepasrahan secara lebih luas adalah daya upaya yang dilandasi oleh keyakinan yang menegaskan suatu pilihan tertentu yang membawa kita kepada keberpihakan terhadap sesuatu yang merupakan kebergantungan kita terhadap sesuatu tersebut, sehingga sudah seharusnya menampakkan (menegaskan) adanya daya upaya untuk mewujudkan kesesuaian di antara yang menyerahkan keyakinan dengan sesuatu yang diserahi keyakinan (apa yang menjadi sandaran bagi kita). Dan ini merupakan perwujudan dari kepatuhan, sehingga jika dua pilar utama kepasrahan, dijadikan sebagai satu kebenaran, maka itu adalah kepatuhan.
Seseorang yang pasrah adalah seorang yang patuh dan dibuktikan dengan mengikuti aturan main dari pihak yang menjadi tempat bersandar (dipasrahi) bagi seseorang tersebut. Seseorang yang memiliki keyakinan akan kebenaran suatu pengetahuan, maka ia harus memahami batasan yang dinyatakan oleh pengetahuan dan berusaha untuk pasrah (patuh) dengan tidak melanggar batasannya. Jika kita meyakini sesuatu pihak dan berharap pihak tersebut dapat membantu kita, namun kita tidak mengikuti aturan main dari pihak yang jadikan sandaran (diyakini) tersebut, maka itu hanyalah kemunafikan dan bukanlah merupakan kepasrahan (kepatuhan).
Setelah memahami perihal kepasrahan sebagai suatu bentuk kepatuhan, lalu bagaimana dengan jangkauan hak & kewajiban di dalam kepasrahan bagi diri kita ? Ini dapat diketahui dari keadaan diri kita sendiri. Yaitu ketika seseorang berada dalam keadaan sakit, maka jangkauan hak & kewajiban di dalam kepasrahannya adalah cenderung untuk beristirahat. Sedangkan ketika seseorang dalam keadaan sehat, ia memiliki hak & kewajiban di dalam kepasrahan melalui bekerja bagi orang tua pada umumnya, belajar bagi murid pada waktunya dan lainnya yang bersesuaian. Demikian pula hak & kewajiban kita dengan kepasrahan ketika berdoa adalah bermohon yang sesuai dengan aturan melakukan permohonan yang benar.
Keimanan dalam hubungannya dengan kepasrahan menegaskan tentang kemungkinan pencapaian kepatuhan yang luar biasa bagi seseorang, yang pada akhirnya jika ini diarahkan kepada Tuhan akan membawa manfaat yang luar biasa bagi seseorang. Dan kita telah memahami bagaimana keimanan dapat membawa seseorang kepada kepasrahan, namun kita belum sepenuhnya memahami konsekuensi dari derajat (luasnya) keimanan seseorang terhadap Tuhan dalam hubungannya dengan kepasrahan.
Keimanan seseorang kepada Tuhan, menuntut kita tidak hanya meyakini tentang sifat-sifat Tuhan, tetapi juga meyakini bahwa cukuplah Tuhan (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang serta Maha Berkuasa) sebagai penolong bagi kita. Hal ini jika dikaitkan dengan kepasrahan yang merupakan daya upaya yang nampak bagi terwujudnya suatu kepatuhan, dapat membawa kita kepada kedalaman kepasrahan yang beragam.
Keyakinan bahwa Tuhan Maha Bijaksana, yang berarti bahwa kita tidak memiliki kebijaksanaan sesempurna Tuhan, serta keyakinan bahwa cukuplah Tuhan sebagai penolong bagi kita, maka ini memberikan konsekuensi bagi kita bahwa kita tidak layak memutuskan perkara kecuali hanya (dengan pertolongan) dari Tuhan. Ini dapat dilakukan melalui kepatuhan yang menegaskan keyakinan untuk berpihak (meminta bantuan) hanya kepada Tuhan, yang merupakan bentuk kepasrahan, dengan beberapa perbedaan kedalaman pelaksanaan kepasrahan:
– Tahap paling awal (pada umumnya): Keimanan kepada sifat Tuhan yang membawa kepada perbuatan dari diri sendiri yang kita selaraskan dengan pokok-pokok kebaikan yang telah ditetapkan oleh Tuhan, agar memberikan manfaat sebaik-baiknya bagi kita,
– Tahap paling dalam (lebih khusus – jarang ditemukan): Keimanan kepada sifat Tuhan yang membuat kita menunggu perbuatan dari Tuhan bagi kita, agar tercapai perbuatan yang lebih sesuai kehendak Tuhan, sehingga manfaat yang diperoleh menjadi lebih baik dari yang dihasilkan oleh tahap awal.
Kedua perbuatan ini tidak pernah dapat lepas dari daya upaya dan adalah juga sama benarnya. Sedangkan perbedaan di antara perbuatan tahap 1. diperbandingkan dengan yang ditegaskan pada tahap 2. adalah bahwa pada tahap 1. kita mematuhi perintah Tuhan untuk berbuat baik berdasarkan pilihan diri sendiri tanpa melanggar batasan kebenaran yang telah ditetapkan olehNya, sedangkan pada tahap 2. adalah bahwa kita mematuhi perintah Tuhan untuk tidak berbuat apapun sampai Tuhan sendiri yang menentukan perbuatan yang paling disukai olehNya bagi kita untuk dipatuhi (dilaksanakan), sehingga tidak ada pilihan bagi kita.
Yang perlu ditegaskan dengan sangat kuat disini adalah kepatuhan yang sesuai dengan tahap 2. yang cenderung pasif dan melalui berdoa menunggu jawaban (ketentuan) dariNya haruslah dilakukan dengan tanpa mengabaikan pokok kebaikan lainnya seperti tidak melupakan keluarga, teman atau beragam kewajiban lainnya yang mendesak harus dilakukan sesuai urutan prioritas. Jika ini semua dilakukan dengan penuh kesabaran (di lakukan berulang kali), yaitu melakukan permohonan untuk memperoleh petunjuk yang jelas dariNya disertai tidak mengabaikan tanggung jawab, maka semoga (sejauh niat kita demi kebaikan) pada suatu saat Tuhan benar-benar akan memberikan jawaban yang menegaskan suatu arah tertentu bagi kita secara jelas tanpa menimbulkan keraguan bagi kita, dengan tetap tidak terbengkalainya apa yang menjadi tanggung jawab kita. Sehingga hidup kita setahap demi setahap dalam banyak hal menjadi lebih terarah menuju kebaikan. Dan ini adalah merupakan usaha menyempurnakan kepasrahan. Jika tidak demikian, maka justru kita telah terjatuh ke dalam ketidakpasrahan sebagai akibat dari kepatuhan yang tidak bertanggung jawab yang sebenarnya merupakan ketidakpatuhan itu sendiri.
Pada akhirnya, semakin besar keimanan seseorang kepada Tuhan, maka semakin sadar pula ia terhadap KekuasaanNya, sehingga semakin tinggi pula kepasrahan seseorang kepadaNya yang tidak hanya sekedar diwujudkan melalui perbuatan baik dalam batas yang diijinkan olehNya (agar memperoleh rahmat dariNya), tetapi seseorang tersebut lebih sering bergantung kepadaNya dengan meniadakan pilihan dari dirinya sendiri dan melakukan pendekatan kepadaNya melalui berdoa secara terus menerus agar tercapai pengarahan yang tidak meragukan dariNya, yang memberikan manfaat diperolehnya kemampuan menyelaraskan perbuatan sesuai dengan kehendakNya, sehingga hatinya menjadi damai sebagai hasil dari keimanan kepadaNya yang menyadarkan bahwa memasrahkan dirinya kepada Tuhan akan menempatkannya selalu dalam keadaan yang terbaik dan menguntungkan (bukan karena diperbandingkan dengan keadaan orang lain yang kurang beruntung dari dirinya, tetapi karena ia merasakan keberuntungan tersebut bagi dirinya sendiri).
Dan karena kita selalu (dituntut sehingga) menjalani kepasrahan, agar dapat hidup sampai detik ini ! Lalu bagaimana seseorang yang masih menginginkan kehidupan dan yang karena keyakinannya membuat hidupnya selalu bergantung pada pihak lain dan selalu berusaha untuk mematuhi pihak lain tersebut, dapat berbuat yang bertentangan dengan sikap kepasrahan yang telah menghidupinya selama ini ? Jadi daripada menyerah pada nasib dan menganggap hal itu sebagai kepasrahan, bukankah lebih baik berjuang memilih tempat bersandar lainnya yang diyakini membawa kebaikan, lalu mematuhi aturan yang ditetapkan oleh yang dijadikan sandaran terbaru lainnya, agar beroleh manfaat. Dan berimanlah kepada Tuhan serta berpasrahlah kepadaNya (meyakini kebaikanNya serta mengikuti aturan mainNya), maka kita telah mengarahkan diri sendiri bagi ketundukan (kepatuhan) terbaik. Dan ini juga berarti merupakan keimanan terbaik (kepada Tuhan) yang membawa kepada kepasrahan terbaik (selaras dengan kehendak Tuhan).
Kurang lebih demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *