Kepasrahan

Banyak orang mempertentangkan makna dan konsekuensi dari kepasrahan. Beberapa menyatakan sebagai menerima satu, beberapa atau semua dengan apa adanya (tanpa melakukan koreksi secara wajar). Beberapa lainnya membuat pernyataan berbeda pula.

Sejauh kemampuan saya tentang kepasrahan adalah sebagai berikut. Hal mendasar yang tidak boleh tidak pasti harus ada di dalam sikap kepasrahan adalah menerima. Ketika sesuatu menghendaki kepasrahan dari anda, maka tanggapan persetujuan anda adalah menyetujuinya, dan ini adalah tahap paling awal di dalam menyikapi sesuatu hal (sebelum sesuatu itu menerjang langsung kepada anda). Tetapi kalau sesuatu itu datang menghunjam langsung kepada anda tanpa sedikitpun waktu bagi anda untuk menyetujui, itu adalah suatu bentuk pemaksaan, di luar kehendak dengan tanggapan paling memungkinkan yaitu pada level keterkejutan dan atau keterpaksaan di dalam menerima (walaupun hanya untuk sesaat atau bahkan larut).
Kemudian setelah kita menerima sesuatu hal sebagai suatu bentuk perasaan (sesuatu yang dapat di rasa) atau sebagai suatu bentuk pemahaman, maka hal lebih lanjut yang paling masuk akal harus terjadi adalah:

Setelah dirasakan, akankah dibiarkan merasakan, atau menjauhkan dari sensasi pengaruh perasaan ?

Setelah dipahami, akankah dibiarkan sebagai informasi, atau akan ditindak-lanjuti secara bagaimana dan entah kapan ?

Kalau anda menanggapi sensasi rasa dengan membiarkan atau menjauhkan dari diri anda tanpa pertimbangan (sedikit pertimbangan), ini namanya larut atau ketidaksukaan (ketidaksesuaian), sedangkan jika anda menanggapi pemahaman dengan menindak-lanjuti atau dilakukan perencanaan atau dijadikan sebagai mawas diri, maka ini adalah merupakan tanggapan perilaku seminim atau semaksimal bagaimanapun yang sesuai.
Dengan tidak adanya respon dalam bentuk apapun sebagaimana di jelaskan sebelumnya di dalam menanggapi sesuatu hal, maka dapat dikategorikan sebagai orang yang telah mati, bodoh, atau malas bahkan penuh kemustahilan (tidak masuk akal). Sedangkan agama tentu tidak menyarankan hal demikian (orang hidup berlagak bagaikan orang mati, bodoh, kemalasan, tidak masuk akal dan sejenisnya). Ini berarti ketika Tuhan melalui agama memerintahkan kita untuk pasrah adalah merupakan bentuk penerimaan yang melibatkan tanggapan yang paling masuk akal.
Lalu apa perbedaan dengan perbuatan lainnya yang juga melibatkan penerimaan dan menanggapi, tetapi boleh jadi dianggap bukan suatu bentuk kepasrahan yang dianjurkan oleh agama ? Sebagai contoh: ketika halangan sulit dihilangkan, maka diterima sebagai sesuatu yang memang layak baginya. Di sini ada pengaruh dan tuntutan tanggapan, dan ditanggapi dengan menerima kesulitan sebagai hal yang memang untuk dirinya (tidak menghendaki perubahan untuk mengatasi kesulitan yang sedang dihadapi), lalu dinyatakan sebagai sikap kepasrahan yang lengkap, utuh. Benarkah ? Tidak benar !
Bahkan kepasrahan yang paling ekstrim yaitu di saat kita tidak mampu menghadapi sesuatu selain hanya menerima serangan bertubi-tubi atau keadaan menekan (sakit dan lainnya) yang tiada daya bagi kita menghadapinya selain dari menerima saja keadaan itu, masih ada satu hal yang dapat dilakukan yaitu berdoa. Ini adalah upaya seminimal mungkin, kecuali jika anda dari segi dunia telah dinyatakan mati, maka jangan ada siapapun mencela bahwa dia melanggar kepasrahan yang benar !
Selama masih ada kesadaran akan kesulitan yang dihadapi, maka anda harus melakukan pertimbangan selambat atau secepat mungkin di dalam mengukur sampai seberapa jauh anda mampu berbuat untuk mengatasi hambatan yang sedang di alami. Jika ini tidak dilakukan dan anda berlindung di balik ketidakberdayaan (bahkan kalaupun hanya bisa berdoa saja dan tidak ada upaya maksimal lainnya yang masuk akal sejauh kemampuan anda, dan inipun juga tidak anda lakukan), maka anda telah terjebak di dalam kontradiksi (anda hidup tapi berlagak seperti orang yang mati !).
Yang jadi masalah adalah sampai seberapa jauh anda harus memperbesar tanggapan atau meminimalkan tanggapan dari suatu kepasrahan. Sebagai contoh: seseorang memaksa anda untuk menerima uang yang memang anda butuhkan, dan anda bergembira atas hal itu, dan anda katakan “aku pasrah menghadapi kejadian ini (akan menerima uang)”, tetapi anda tidak membuka tangan untuk menerima, tidak juga berbicara, dan tidak melakukan apapun agar uang itu dapat dimanfaatkan oleh anda. Bukankah ini merupakan sikap penolakan yang bukan merupakan kepasrahan terhadap orang yang akan memberi uang (yang memicu sikap kepasrahan), melainkan dapat dikatakan juga sebagai kemustahilan. Bahkan ketika andapun tidak sanggup menerima uang karena cacat tangan, anda tetap harus secara masuk akal meminta orang lain untuk menerima uang tersebut, dan kalaupun anda tidak berdaya sama sekali selain hanya bisa disuapi oleh orang lain (lumpuh), andapun harus menyetujui orang lain memberikan bantuan kepada anda yang paling masuk akal untuk seorang yang lumpuh seperti anda. Sikap ini adalah suatu bentuk PENERIMAAN yang benar, sedangkan sebaliknya adalah sikap PENOLAKAN atau memang anda telah mati dari dunia ini (sehingga hukum kepasrahan tidak dapat diterapkan di dunia ini).
Seseorang boleh jadi menerima sesuatu keadaan sulit tanpa mau melakukan perbaikan atas dasar kepasrahan (yang dianggap benar). Ini melanggar prinsip kepasrahan yang paling mendasar yaitu masuk akal. Karena ketika sesuatu tidak sanggup dihadapi, ia masih dapat berusaha di tempat lain, atau berusaha mengenali kemampuan diri sendiri dan melakukan perubahan usaha yang paling sesuai dengan dirinya (bakat dan pengalaman dan sejenisnya), atau menghadapi dengan pendekatan (pembelajaran, strategi) yang berbeda dan lebih baik . Dan kalaupun ini sulit juga dilakukan, maka jalan terakhir adalah berdoa. Sedangkan berdoa itupun dapat naik level dari yang tadinya dibedakan antara berdoa dan berusaha menjadi berdoa sebagai permohonan dan sekaligus bagian dari usaha itu sendiri ! (sejauh telah dilakukan usaha selain doa semampunya).
Jadi, selama anda masih hidup dan masih memiliki nalar yang anda nilai sendiri layak dipertanggung jawabkan (seminim atau sebesar apapun anggapan anda), maka kepasrahan selalu bermakna menerima dan menanggapi dengan masuk akal. Dan sesuatu yang masuk akal tidak harus mengikuti aturan umum, demikian juga sebaliknya yang unik tidak selalu masuk akal.
Sudahkah anda pasrah yang benar (masuk akal) atau boleh jadi anda merasa telah bersikap masuk akal tapi sebenarnya merupakan kebodohan. Kalau ini memang benar, maka terimalah kebodohan itu tetapi dilandasi doa ! (agar mendapatkan berkah – bantuan Tuhan) yang justru merupakan kepandaian. Selain dari itu hanyalah merupakan sebenar-benarnya kebodohan yang konyol atau sebenar-benarnya kepandaian yang jauh dari kerendah-hatian (yang sebenarnya merupakan keobodohan atau kepandaian yang mengakibatkan ketidak-stabilan di satu atau lebih segi) !
Dan tidak ada cara yang lebih baik di dalam melakukan kepasrahan yang sebaik-baiknya melainkan dilandasi oleh kejujuran akan kemampuan diri sendiri, pemahaman akan prioritas yang meliputi dan dilandasi doa dengan keimanan yang kuat kepada-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *